đ˛đ¨âď¸Mentengnews.com – Medan: Opini yang dilontarkan Riza Fakhrumi Tahir mengenai ânasib Hendri Sitorus makin tak jelasâ kembali menuai kritik tajam dari kalangan internal Partai Golkar Sumatera Utara. Tulisan tersebut dinilai bukan analisis objektif, melainkan upaya membangun kegaduhan politik di tengah proses konsolidasi menjelang Musda.
Kritik kali ini datang dari Ir. Alpan Alpis, Pengurus Partai Golkar Deli Serdang sekaligus Sekretaris DPC Ormas MKGR Deli Serdang. Ia menilai narasi ânasibâ yang dibangun Riza terlalu kental dengan diksi emosional dan amat miskin dasar keputusan organisasi.
âKetika peluang politik di Musda tidak ada, sebagian orang memilih jalur opini untuk merusuh suasana. Ini bukan hal baru,â ujar Alpan, Kamis.
Ia menegaskan, publik pun memahami bahwa Riza selama ini dikenal sebagai figur yang berada dalam orbit politik Musa Rajekshah alias Ijeck. Karena itu, opini bernada pesimistis tersebut dinilai sarat kepentingan untuk mempertahankan pengaruh lama yang kian menyempit seiring menguatnya arus regenerasi Golkar Sumut.
âMusda itu forum resmi. Yang menentukan bukan loyalitas lama atau suara opini, tapi mekanisme dan keputusan kolektif. Kalau tidak punya tiket maju, jangan mengubah politik jadi cerita horor,â katanya menyindir.
Alpan juga menegaskan, hingga kini tidak ada satu pun keputusan resmi partai yang menyatakan masa depan politik Hendri Yanto Sitorus berakhir atau âtak jelasâ.
Karena itu, penggunaan istilah ânasib makin tak jelasâ disebut sebagai bentuk cacat berpikir politik.
âGolkar bukan panggung mistis. Tidak ada ânasibâ, yang ada aturan. Kalau aturan tidak berpihak, jangan diganti dengan ramalan,â tegasnya.
Kritik juga diarahkan pada penggunaan istilah seperti âbonekaâ dan âoligarkiâ dalam tulisan Riza. Menurut Alpan, diksi semacam itu lebih menyerupai provokasi daripada analisis yang berlandaskan fakta.
âSemakin keras istilah yang dipakai, semakin terlihat ketiadaan pijakan argumennya. Ini agitasi, bukan analisis,â tambahnya.
Lebih jauh, Alpan mengingatkan posisi moral seorang senior dalam politik.
âSudahlah Om Riza, di hari tua ini kita jangan kerap memberi hal-hal mistis dan menanamkan ketakutan pada generasi berikutnya,â katanya lugas.
Ia melanjutkan, âBaiknya di usia sepuh ini, hati Pak Riza seharusnya dipenuhi prasangka-prasangka baik, bukan malah sebaliknya. Senior itu mestinya meneduhkan, bukan menghantui.â
Menurut Alpan, regenerasi Golkar tidak pernah ditentukan oleh opini pesimistis atau loyalitas masa lalu, melainkan oleh kerja nyata dan kepatuhan terhadap mekanisme partai.
âMusda bukan audisi opini. Yang lolos bukan yang paling ribut, tapi yang siap secara mekanisme. Saat peluang maju tak ada, merusuh dengan narasi bukanlah jalan terhormat,â pungkasnya. *(Tim)*













