🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru – Riau:
Penulis : _Dr (Cand). Andre Khalid, S.E., M.M., S.H., M.H.
Ada sebuah paradoks dalam kepemimpinan: manusia membutuhkan cita-cita untuk bergerak, tetapi harus berpijak pada kenyataan untuk sampai ke tujuan.
Di antara cita-cita dan kenyataan itulah kepemimpinan berlangsung.
Seorang pemimpin yang hanya memandang langit mungkin memiliki visi yang tinggi, tetapi dapat kehilangan pijakan ketika berhadapan dengan realitas.
Sebaliknya, pemimpin yang hanya menatap tanah mungkin sangat memahami keadaan, tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat ke mana masyarakat harus dibawa.
Kemudian hadir pragmatisme: kemampuan menemukan jalan di antara apa yang diinginkan dan apa yang dimungkinkan.
Namun zaman tidak pernah diam.
Karena itu, ketiganya masih membutuhkan satu dimensi lagi: dinamisme.
Kepemimpinan tidak cukup hanya memiliki prinsip. Ia juga harus memiliki kemampuan untuk bergerak ketika keadaan berubah.
Dari sinilah muncul sebuah gagasan: kepemimpinan ideal bukanlah kepemimpinan yang memilih antara idealisme, realisme, atau pragmatisme, melainkan kepemimpinan yang mampu mensintesis kan ketiganya secara dinamis.













