Menemukan Sintesis Idealisme, Realisme, Pragmatisme, dan Dinamisme dalam Kepemimpinan.

Terpopuler531 Dilihat

“Kepemimpinan di Antara Cita-Cita dan Kenyataan”.

Penulis : _Dr (Cand). Andre Khalid, S.E., M.M., S.H., M.H._

🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru : (Bag. Ke-2). Idealisme: Ketika Kepemimpinan Memerlukan Cita-Cita. Tidak ada perubahan besar yang lahir tanpa gagasan tentang sesuatu yang lebih baik.

Idealisme pada hakikatnya adalah keberanian untuk membayangkan keadaan yang belum ada.

Ia berbicara tentang _*what ought to be*_—tentang apa yang seharusnya terjadi.
Dalam kepemimpinan, idealisme berfungsi sebagai kompas moral dan visi.

Ia menjawab pertanyaan paling mendasar:

“Untuk apa kita memimpin?”
Tanpa pertanyaan tersebut, kepemimpinan mudah direduksi menjadi persoalan kekuasaan, jabatan, administrasi, atau sekadar kemampuan mengelola organisasi.

Padahal kekuasaan tanpa tujuan hanya menghasilkan kemampuan untuk memerintah, bukan kemampuan untuk membawa perubahan.

Namun idealisme memiliki risiko ketika ia terputus dari realitas.
Cita-cita yang tidak memahami keadaan dapat berubah menjadi utopia.

Visi yang tidak memperhitungkan kemampuan dapat menjadi slogan. Dan prinsip yang tidak memiliki strategi dapat berhenti sebagai retorika.

Karena itu, idealisme membutuhkan realisme.

Bersambung…..

(Red**)

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *