Pria Sungai Ara Joe Kacaw Berani Bicara Benar Demi Keadilan

Terpopuler1556 Dilihat

🇮🇩✌️Mentengnews.com – Sungai Ara – Pelalawan – PWMOI Pelalawan: Jika kau tanya warga Sungai Ara siapa itu Joe Kacaw, jawabannya tidak akan jauh dari kata “berani bicara”.

Pria bernama asli Juhendri itu bukan orang baru di Pelalawan. Lahir di Sungai Ara, 11 Mei 1989, ia tumbuh bukan di ruang ber-AC, melainkan di tengah debu jalan desa, di warung kopi, di kerumunan warga yang mengeluh soal jalan rusak, pelayanan yang lambat, dan janji yang tak kunjung datang.

Dari situlah Joe Kacaw ditempa.

Ia tidak memilih diam. Sementara banyak anak muda memilih pergi dan melupakan kampung halaman, Joe justru memilih menetap, mendengar, dan menyuarakan. Lewat Gerakan Pemuda Peduli Pelalawan (GP3), namanya mulai dikenal sebagai aktivis yang keras kepala dalam memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.

 

Tapi Joe berbeda.

Baginya, aktivis bukan soal siapa yang paling keras berteriak. Baginya, aktivis adalah soal siapa yang paling tulus mencari solusi.

“Kritik itu harus tajam, terukur dan elegan. Tapi jangan berhenti di kritik. Harus ada solusi yang bisa dimakan rakyat,” katanya suatu waktu. Kalimat itu yang kemudian menjadi napas pergerakannya.

Bertahun-tahun ia menjadi jembatan. Jembatan antara keluh kesah warga di bawah dengan telinga para pemangku kepentingan di atas. Ia tidak selalu disukai, karena kebenaran memang tidak selalu enak didengar. Tapi satu hal yang tidak bisa dibantah warga, Joe Kacaw selalu ada.

Kini, panggilan itu datang dari tempat paling dekat, dari tanah tempat ari-arinya ditanam, Sungai Ara.

Desa yang membesarkannya, dengan segala potensi dan persoalannya, memanggilnya untuk tidak hanya bersuara dari luar, tapi berbuat dari dalam.

“Ini bukan soal saya ingin jadi apa. Ini soal apa yang bisa saya perbuat untuk kampung halaman. Sungai Ara adalah rumah. Dan kalau rumah sendiri bocor, kita tidak bisa hanya menonton,” ucap Joe pelan, namun tegas.

Ia paham, membangun desa tidak bisa dilakukan sendirian. Tidak cukup hanya dengan Kepala Desa. Dibutuhkan semua tangan, tangan petani yang berlumpur, tangan nelayan yang asin oleh laut, tangan ibu-ibu UMKM, tangan pemuda karang taruna, hingga tangan sejuk para tokoh agama dan tokoh adat.

Itulah Sungai Ara yang ia bayangkan, desa yang maju bukan karena satu orang, tapi karena semua orang merasa memiliki.

Dari seorang anak kampung yang hobi menyuarakan keresahan, kini Juhendri alias Joe Kacaw mencoba menulis babak baru. Bukan lagi sekadar mengkritik dari pinggir jalan, tapi ikut memikul tanggung jawab di tengah jalan.

Perjalanannya masih panjang. Tapi satu hal yang pasti, ia berangkat dengan bekal yang tidak dimiliki semua orang, ia dicintai karena keberaniannya, dan dipercaya karena ketulusannya.

Dia adalah Joe Kacaw. Putra Sungai Ara yang pulang untuk mengabdi.Kedatangannya untuk menyerahkan dokumen persyaratan pencalonan sebagai bakal calon Kepala Desa Sungai Ara.

Meski hujan turun cukup deras, Juhendri tetap datang dan menyerahkan berkas pencalonannya. Suasana tersebut menjadi bagian tersendiri dalam perjalanan dirinya untuk ikut mengambil bagian dalam proses demokrasi di tingkat desa.

Usai menyerahkan dokumen kepada panitia, Juhendri alias Joe Kacaw menyampaikan bahwa keputusannya maju sebagai bakal calon Kepala Desa Sungai Ara bukan semata-mata soal pencalonan, tetapi juga bentuk keinginan untuk ikut berbuat dan mengabdikan diri bagi masyarakat.

“Saya datang bukan karena merasa paling hebat dan bukan pula karena merasa paling mampu. Saya datang karena ingin ikut berbuat untuk kampung halaman. Bagi saya, Sungai Ara adalah tanah tempat saya tumbuh dan bagian dari tanggung jawab kita bersama untuk menjadikannya lebih baik,” ujar Juhendri.

Ia menegaskan, proses Pilkades hendaknya dijalankan dengan suasana kekeluargaan, mengedepankan musyawarah dan menghormati setiap pilihan masyarakat.

“Pilkades ini jangan sampai membuat kita terpecah. Siapa pun yang maju adalah putra-putri Sungai Ara. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi persaudaraan harus tetap dijaga.

Menang atau kalah dalam kontestasi adalah bagian dari proses, tetapi menjaga marwah dan persatuan kampung adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Menurut Juhendri, hujan yang turun saat dirinya mengantarkan berkas pencalonan justru menjadi sebuah pengalaman yang akan dikenang.

*** JPH *** PWMOI Pelalawan 

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *