SUMPAH PEMUDA: JANGAN HANYA MEWARISI INDONESIA, BANGUNLAH INDONESIA

Terpopuler687 Dilihat

Oleh: Dr (C). Andre Khalid, S.E., M.M., S.H., M.H.

🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru – Riau: Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kita mengenang sebuah ikrar bersejarah tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Namun, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, ada pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: apakah semangat Sumpah Pemuda sudah benar-benar hidup dalam tindakan kita hari ini?

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia merupakan pengingat bahwa persatuan harus melahirkan tanggung jawab bersama. Para pemuda terdahulu menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang untuk membangun cita-cita kebangsaan.

Hari ini, tantangan kita memang berbeda. Kita menghadapi persoalan lapangan kerja, ketimpangan kesempatan, tekanan ekonomi keluarga, perubahan teknologi, serta tuntutan agar pelayanan publik semakin berkualitas.

Dalam situasi seperti ini, pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton, pengkritik, atau penerima manfaat pembangunan. Pemuda perlu mengambil bagian sebagai pelaku perubahan.

Nasionalisme harus melampaui slogan. Ia harus hadir dalam karya, integritas, dan keberanian menyelesaikan persoalan masyarakat.

Pemuda yang memiliki kemampuan dan kesempatan perlu membantu membuka ruang bagi mereka yang belum memperoleh kesempatan.

Pemuda yang berwirausaha dapat membangun kolaborasi, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja. Pemuda yang berada di pemerintahan harus menjaga integritas dan memastikan bahwa kewenangan digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Sementara itu, pemuda yang bergerak dalam organisasi sosial perlu menjadikan organisasinya sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar tempat berkumpul dan membangun kebanggaan simbolik.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap pembangunan ekonomi. Kemandirian bangsa tidak hanya dibangun melalui proyek-proyek besar, tetapi juga melalui keluarga yang produktif, usaha kecil yang bertumbuh, keterampilan yang meningkat, dan masyarakat yang mampu mengembangkan potensinya sendiri.

Di sinilah semangat persatuan memperoleh makna yang nyata. Persatuan bukan berarti semua orang harus melakukan pekerjaan yang sama. Persatuan berarti setiap orang, dengan kemampuan dan perannya masing-masing, dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Tentu, tanggung jawab membangun bangsa tidak boleh dibebankan kepada pemuda semata. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan generasi yang lebih senior juga memiliki peran penting. Pemuda membutuhkan ruang partisipasi, akses terhadap pendidikan dan kesempatan ekonomi, serta lingkungan yang menghargai gagasan dan kerja nyata.

Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda semestinya menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antargenerasi. Pengalaman generasi terdahulu perlu dipertemukan dengan keberanian, kreativitas, dan kemampuan adaptasi generasi muda. Kita tidak perlu mempertentangkan generasi, sebab pembangunan bangsa membutuhkan kontribusi semuanya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan generasi muda bukanlah seberapa sering kita berbicara tentang masa depan Indonesia, melainkan seberapa besar kontribusi yang kita berikan untuk mewujudkannya.

Mari kita jadikan Sumpah Pemuda sebagai komitmen untuk membangun manusia Indonesia yang berintegritas, memperkuat ekonomi masyarakat, merawat persatuan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

*Jangan hanya bangga menjadi pewaris cita-cita para pendahulu. Jadilah generasi yang bekerja agar cita-cita itu benar-benar terwujud.*

Selamat Hari Sumpah Pemuda.🇮🇩

_Bersatu dalam cita-cita, bergerak dalam karya, dan mengabdi untuk Indonesia._

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *