Menjaga Gelar Khalifatullah – Manusia – Sebagai Wakil Tuhan di Bumi

Terpopuler924 Dilihat

Oleh: Jacob Ereste:

🇮🇩✌️Mentengnews.com:

Orang yang tidak pernah mau mendengar pendapat dan usulan orang lain, jelas memiliki tingkat egoisme di atas rata-rata yang dianggap penyimpangan psikologis yang tidak perlu ditaklukkan dengan cara face to face, karena yang terbaik kesadaran untuk melakukan koreksi diri itu akan lebih bagus dan efektif muncul dari yang bersangkutan sendiri.

Karena itu, tak perlu risau jika harus berhadapan dengan yang bersangkutan, karena sikap terbaik adalah menahan diri. Tak perlu memberikan komentar apa-apa hingga yang bersangkutan sendiri kelak akan menyadari bahwa pendapat dan pemikiran orang lain sesungguhnya perlu dan penting untuk didengar, kalau pun tidak dapat memberi solusi atau jalan keluar dari kebuntuan untuk menemukan jalan terbaik dari apa yang ada dalam perencanaan atau program yang hendak dilakukan.

Kecenderungan orang untuk ngomong dan enggan mendengar omongan orang lain adalah sikap bijak yang masih perlu disempurnakan. Setidaknya untuk belajar menjadi pe dengar yang baik memang harus mendapat perhatian tersendiri. Sebab hanya dengan mendengar secara serius dan jernih, kesimpulan dapat dilakukan antara yang baik dengan yang buruk.

Kemampuan untuk mendengar pembicaraan orang dengan cara yang baik dan bijak, memang terkadang tidak seiring dengan kemampuan berbicara yang bisa nyerocos seperti air yang meluncur dari sebuah bendungan yang sedang meluap. Itulah sebabnya tradisi curhat – mencuri perhatian jadi dianggap halal – bahkan sering dianjurkan oleh psikolog agar tidak sampai menjadi penyakit yang merusak jiwa.

Dalam konteks inikah perspektif psikologis spiritual sangat diperlukan. Karena soal perasaan yang tertahan dan mengendap bisa menjadi batu ginjal yang tidak tampak wujudnya.

Jadi kemampuan mendengar dengan kemampuan berbicara itu nyaris sama dan sebangun dengan kemampuan ngomong dengan untuk mengungkapkan gagasan dan pemikiran yang paling cemerlang sekalipun.

Namun terkadang tidak selaras dengan kemampuan untuk menuliskan pemikiran dan gagasan itu dalam bentuk tulisan. Tidak kecuali untuk pemikiran dan gagasan yang paling sederhana sekali pun.

Karena itu kemampuan mendengar dengan baik, tidak kalau kualitas serta perlunya dibandingkan dengan kemampuan bicara yang bermuara dan indah sekaligus bisa memukau para pendengar. Begitu juga dengan menulis.

Oleh Karena itu, kemampuan berbicara banyak perlu diimbangi oleh kemampuan untuk mendengar dalam jumlah yang banyak juga. Sama seperti berbicara secara lisan perlu diimbangi oleh kemampuan berbicara dalam bentuk tulisan.

Artinya, hukum keseimbanganssangat penting dan perlu untuk dilakukan layak antara jiwa dan raga yang tidak boleh saling mengabaikan.

Keseimbangan dalam daya ungkap ini, jelas dan pasti akan mencerminkan sikap dan sifat pribadi setiap orang untuk mencapai tata harmoni yang paling ideal dalam perilaku untuk tidak selalu merasa benar sendiri.

Dalam tata keseimbangan – untuk mengatasi ketimpangan – jelas dan perlu dilakukan agar sikap egoistis tidak sampai terkesan jadi menggagahi orang lain.

Proses menuju kesadaran serupa inilah yang acap disebut sebagai bagian dari salah satu jalan untuk masuk dalam wilayah spititual, sehingga tatanan etika, moral dapat terbingkai rapi dan indah dalam akhlak kemuliaan manusia yang penyandang gelar wakil Tuhan di bumi.

Banten, 26 Maret 2026

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *