Hutan Terbakar, Rakyat Terancam: Aktivis Universitas Abdurrab Soroti Karhutla Riau

Terpopuler447 Dilihat

🇮🇩✌️Mentengnews.comPekanbaru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian mahasiswa dan aktivis Universitas Abdurrab. Kondisi karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Riau dinilai tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan musiman, tetapi harus menjadi perhatian serius karena menyangkut lingkungan, kesehatan masyarakat, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat Riau.

Aktivis Universitas Abdurrab Kukuh Elhakim menilai pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat langkah pencegahan dan penanganan karhutla secara terpadu. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla akibat kondisi cuaca yang cenderung kering, pengaruh El Niño, serta meningkatnya potensi titik panas.

“Karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar lahan. Di baliknya ada persoalan ekologis, kesehatan masyarakat, ekonomi, bahkan masa depan generasi yang akan datang. Karena itu, penanganannya tidak boleh hanya dilakukan ketika api sudah membesar,” ujar Kukuh Elhakim.

Mahasiswa juga menyoroti pentingnya langkah preventif. Menurut mereka, pemantauan titik panas harus dilakukan secara maksimal dan diikuti dengan respons cepat ketika ditemukan indikasi kebakaran. BMKG sendiri telah mendorong penguatan mitigasi melalui pemantauan hotspot secara real-time serta operasi modifikasi cuaca di wilayah rawan, termasuk Riau.

“Jangan sampai kita selalu sibuk memadamkan api, tetapi lupa mencegah api itu muncul kembali. Pemerintah harus memperkuat pengawasan, penegakan aturan, pemulihan lahan, serta melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan,” lanjutnya.

Aktivis Universitas Abdurrab juga meminta agar penanganan karhutla dilakukan secara transparan dan berkelanjutan. Setiap kejadian kebakaran perlu ditelusuri penyebabnya secara objektif, sementara pihak yang terbukti melakukan pelanggaran harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Bagi mahasiswa, persoalan karhutla merupakan persoalan bersama. Kampus dan organisasi mahasiswa dinilai memiliki ruang untuk ikut membangun kesadaran ekologis melalui edukasi kepada masyarakat, kampanye lingkungan, serta pengawasan sosial terhadap persoalan lingkungan di Riau.

“Riau tidak boleh terus-menerus identik dengan kabut asap ketika musim kemarau datang. Kita membutuhkan keberanian untuk melakukan pencegahan sejak dini dan konsistensi dalam menjaga lingkungan,” tegas Kukuh Elhakim.

Mahasiswa berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan masyarakat umum dapat memperkuat kolaborasi dalam mencegah serta menangani karhutla.

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *