🇮🇩✌️Mentengnews.com – Kabupaten Solok: Di bawah langit Nagari Batang Barus, tepatnya di jalur lintas Lubuk Selasih, derap langkah seratus anak muda terdengar penuh semangat setiap pagi.
Mereka adalah siswa-siswi Sekolah Rakyat (SRMP) 5 Solok, anak-anak terpilih dari keluarga prasejahtera yang kini tengah berjuang mengubah garis nasib melalui pendidikan asrama.
Meski berasal dari latar belakang ekonomi miskin ekstrem, tak ada gurat putus asa di wajah mereka.
Sebaliknya, sekolah yang dipimpin oleh Ibu Vera Herlily, M.Pd. ini dikenal sebagai kawah candradimuka bagi bibit-bibit unggul yang berani tampil dan kerap menyabet prestasi di tingkat kabupaten.
Semangat yang Terbentur Debu Jalanan
Namun, di balik semangat yang berkobar, ada kenyataan pahit yang harus mereka telan setiap hari. Hingga saat ini, SRMP 5 Solok belum memiliki fasilitas lapangan olahraga yang layak. Untuk sekadar berlatih bola kaki atau melakukan aktivitas fisik sesuai kurikulum persiapan, para siswa harus rela berbagi ruang dan keterbatasan.

“Anak-anak kami memiliki fisik yang kuat dan mental petarung. Mereka sering ikut lomba antar sekolah dan berani tampil di depan umum. Namun sayang, potensi atletis mereka belum bisa tersalurkan maksimal karena ketiadaan lapangan,” ungkap seorang tenaga kependidikan di sekolah tersebut.
Membangun Karakter di “Tangan” Bhayangkara
Kondisi ini memicu munculnya rencana kerja sama strategis dengan pihak Kepolisian. Kehadiran personel Polri diharapkan tidak hanya sekadar memberikan bantuan teknis, tetapi menjadi figur ayah dan kakak yang mampu menanamkan nilai kedisiplinan dan ketegasan.
Sesuai dengan visinya yaitu “Bertaqwa, Berkarakter, dan Berdaya Saing Global”, SRMP 5 Solok membutuhkan sentuhan pelatihan fisik dan mental yang sistematis. Program seperti PBB (Peraturan Baris Berbaris) dan pembinaan mental dari kepolisian diharapkan bisa menjadi fondasi agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki karakter baja.
Menanti Uluran Tangan untuk Lapangan Impian Dukungan dari 12 orang guru dan 25 tenaga kependidikan (tendik) terus dipompa untuk menjaga api semangat siswa tetap menyala. Namun, mereka tidak bisa berjalan sendiri. Kebutuhan akan lapangan olahraga bukan sekadar soal fasilitas fisik, melainkan ruang bagi anak-anak ini untuk melepaskan penat, melatih sportivitas, dan menjauhkan diri dari pengaruh negatif lingkungan.
“Mereka adalah anak-anak kita semua. Jika hari ini kita memberinya ruang untuk berlari di lapangan yang layak, besok mereka akan lari untuk menjemput masa depan yang lebih baik bagi bangsa ini”.
Langkah kolaborasi dengan Polda Sumbar atau instansi terkait kini menjadi tumpuan harapan. Agar di kaki Gunung Talang ini, mimpi anak-anak miskin ekstrem tak lagi terkendala oleh tiadanya sarana, melainkan melesat menjadi prestasi yang membanggakan Sumatera Barat.












