🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Al-Azhar Pekanbaru menggelar kegiatan Makrab (Malam Keakraban) di kawasan Taman Bunga Impian, Okura, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Minggu (11/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi, penguatan solidaritas, sekaligus forum diskusi untuk membangun karakter mahasiswa yang kritis, intelektual, dan berintegritas.
Mengusung tema “Merajut Solidaritas, Menguatkan Kapasitas, Menakar Arah Gerakan Mahasiswa yang Berintegritas”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang mempererat hubungan antarmahasiswa, tetapi juga momentum refleksi untuk meneguhkan kembali peran dan tanggung jawab mahasiswa dalam kehidupan akademik, sosial, dan kebangsaan.
Presiden Mahasiswa DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru, Noprianda Ramadhan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melatih dan mengasah kembali api nilai-nilai perjuangan mahasiswa agar tetap berpijak pada kepentingan dan keberpihakan terhadap rakyat.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat perjuangan mahasiswa yang tidak hanya lantang dalam berbicara, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, serta keberanian untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Solidaritas harus menjadi kekuatan kolektif yang mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang kritis, terarah, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik semata ataupun menjadikan organisasi hanya sebagai ruang berkumpul. Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kesadaran kritis, memperluas wawasan, mengasah kepemimpinan, dan menumbuhkan keberanian dalam menyikapi berbagai persoalan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pelaksana yang juga Wakil Presiden Mahasiswa DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru, Ikromil Hadi, berharap kegiatan positif seperti ini terus dihidupkan dan menjadi bagian penting dari proses mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Kegiatan seperti ini harus terus kita rawat selama kita masih menjadi mahasiswa. Kita sering disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Namun, predikat itu tidak cukup hanya menjadi slogan. Mahasiswa harus mampu membuktikan perannya melalui pemikiran yang akademis, sikap intelektual, keberanian bersikap kritis, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, mahasiswa perlu membangun tradisi diskusi yang sehat, memperkuat budaya membaca dan meneliti, serta mengembangkan keberanian menyampaikan gagasan berdasarkan argumentasi ilmiah. Sikap kritis harus dibangun di atas pengetahuan dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kritik tanpa solusi.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ketiga unsur tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kewajiban institusional atau materi yang dipelajari di ruang kelas. Sebaliknya, Tri Dharma harus menjadi pedoman dalam membentuk mahasiswa yang berpengetahuan, produktif menghasilkan gagasan dan penelitian, serta mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pendidikan harus melahirkan kesadaran, penelitian harus menghasilkan pemahaman dan solusi, sedangkan pengabdian harus menjadi wujud nyata kebermanfaatan ilmu pengetahuan bagi rakyat.
DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru memandang bahwa gerakan mahasiswa yang berintegritas membutuhkan kesatuan antara pemikiran, perkataan, dan tindakan. Solidaritas tanpa kapasitas akan kehilangan arah, intelektualitas tanpa keberpihakan berisiko menjauh dari persoalan rakyat, sedangkan gerakan tanpa integritas akan kehilangan kepercayaan publik.
Karena itu, mahasiswa dituntut untuk terus memperkuat kualitas diri, membangun persatuan, menjaga independensi berpikir, serta berani mengambil peran dalam mengawal berbagai persoalan sosial secara objektif, kritis, dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan Makrab ini, DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tidak berhenti pada seremoni dan slogan perubahan. Mahasiswa harus terus belajar, berdiskusi, meneliti, bergerak, dan mengabdi agar keberadaannya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Sebab, mahasiswa bukan hanya bagian dari dunia akademik, melainkan juga kekuatan moral dan intelektual yang memiliki tanggung jawab untuk merawat nalar kritis, memperjuangkan keadilan, serta menghadirkan perubahan yang berpihak pada kepentingan rakyat.







