Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya Ketum PHDI Dedikasi Umat Untuk Indonesia Raya

Terpopuler765 Dilihat

🇮🇩✌️Mentengnews.com – Jakarta — Mengabdi dalam sebuah organisasi bukan sekadar tentang memimpin. Lebih dari itu, pengabdian berarti menjaga kepercayaan, merawat kebersamaan, serta memastikan setiap langkah memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.

Semangat tersebut mewarnai perjalanan lima tahun kepemimpinan Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

Selama masa kepemimpinannya, PHDI menghadapi berbagai dinamika organisasi. Di tengah tantangan tersebut, PHDI terus berupaya memperkuat peran umat Hindu dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan.

Wisnu menggambarkan perjalanan lima tahun itu seperti mengarungi samudera. Tidak selalu tenang, tetapi setiap gelombang menjadi bagian dari proses untuk terus bergerak dan bertumbuh.

“Selama lima tahun ini kami sudah mengarungi samudera, naik turun gelombang untuk tetap tegar dalam membangun umat dan yakin Tuhan bersama kita,” ujar Wisnu dalam rangkaian Mahasabha XIII PHDI di Jakarta.

Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan pada hakikatnya merupakan perjalanan pengabdian. Ada tantangan yang harus dihadapi, ada kebersamaan yang harus dijaga, dan ada amanah yang harus dituntaskan.

Bagi PHDI, menjaga persatuan umat menjadi salah satu fondasi utama. Kekuatan organisasi tidak hanya dibangun melalui struktur kelembagaan, tetapi juga melalui kebersamaan, gotong royong, dan kesediaan untuk saling mendukung.

### Dari Pengabdian untuk Umat

Mahasabha XIII PHDI yang berlangsung di Jakarta menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan organisasi sekaligus menatap masa depan.

Mengusung tema **”Penguatan PHDI Melalui Dharma Agama dan Dharma Negara Menuju Indonesia Raya”**, Mahasabha tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komitmen bahwa umat Hindu memiliki tanggung jawab dalam membangun kehidupan bangsa.

Dalam momentum tersebut, Wisnu juga mengajak seluruh umat untuk memberikan dukungan kepada siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin PHDI.

“Siapa pun yang akan terpilih nantinya harus kita dukung dan bersama-sama menegakkan kehidupan Hindu dengan baik,” katanya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa regenerasi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan bagian dari proses untuk meneruskan pengabdian.

Kepemimpinan dapat berganti, tetapi semangat membangun umat, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi bagi bangsa harus terus dilanjutkan.

### Merawat Keberagaman dengan Cinta

Pesan tentang persatuan juga mengemuka saat Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka Mahasabha XIII PHDI.

Ia menekankan pentingnya merawat keberagaman melalui nilai cinta. Menurutnya, Indonesia dibangun dari berbagai perbedaan yang harus dijaga dengan sikap saling menghormati.

Semangat **”Kurikulum Cinta“** menjadi salah satu pesan penting dalam membangun kehidupan beragama yang damai dan inklusif.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat kebangsaan PHDI yang menempatkan persatuan dan toleransi sebagai bagian penting dalam kehidupan umat.

Di tengah keberagaman Indonesia, kehidupan beragama diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membangun hubungan sosial yang harmonis.

### Dharma Agama dan Dharma Negara

Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan pentingnya menjalankan Dharma Agama dan Dharma Negara secara berdampingan.

Umat beragama memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan spiritual sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.

Dalam konteks tersebut, PHDI memiliki ruang kontribusi yang luas, mulai dari pendidikan, kebudayaan, pemberdayaan ekonomi umat hingga penguatan kehidupan sosial.

Kontribusi tersebut semakin penting di tengah berbagai tantangan bangsa yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Karena itu, penguatan PHDI tidak hanya berkaitan dengan kehidupan internal organisasi, tetapi juga bagaimana organisasi mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan negara.

### Dedikasi yang Tidak Berhenti pada Jabatan

Lima tahun kepemimpinan Wisnu Bawa Tenaya pada akhirnya bukan hanya tentang masa jabatan.

Ada perjalanan panjang dalam menjaga organisasi, menghadapi berbagai tantangan, membangun komunikasi, serta memperkuat hubungan dengan berbagai elemen bangsa.

Dari perjalanan tersebut, satu nilai penting yang dapat ditarik adalah bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang seberapa lama seseorang berada dalam sebuah posisi, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan selama menerima amanah.

Mahasabha XIII menjadi momentum untuk meneruskan semangat tersebut.

Pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari proses organisasi. Namun, dedikasi kepada umat, semangat menjaga persatuan, serta komitmen memberikan kontribusi bagi Indonesia harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, organisasi yang kuat tidak hanya lahir dari pemimpin yang mampu memimpin, tetapi juga dari kader dan umat yang bersedia melanjutkan pengabdian.

Perjalanan lima tahun mengarungi “samudera” menjadi bagian dari pengalaman PHDI dalam menghadapi berbagai dinamika. Dari sana, semangat untuk terus bergerak maju diharapkan semakin kuat.

PHDI diharapkan terus berlayar membawa semangat **Dharma Agama dan Dharma Negara**, memperkuat persatuan umat, merawat keberagaman, serta memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan Indonesia Raya.

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *