Berbagi Senyum di Rumah Singgah YKAKI, Ikatan Psikolog Klinis Riau Tekankan Pentingnya Kesehatan Jiwa Anak
🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru — Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS), Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Riau, Susana Pebri Artati, menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan jiwa, khususnya bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pengobatan serta keluarga yang mendampingi mereka.
Pesan tersebut disampaikan Susan dalam kegiatan bertajuk “Berbagi Senyum, Menguatkan Harapan” yang digelar di Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Jalan Kartini, Pekanbaru, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk berbagi kebahagiaan, memberikan dukungan emosional, serta menumbuhkan semangat dan harapan bagi anak-anak, orang tua, dan para pendamping (caregiver).
Dalam sambutannya, Susan menyampaikan bahwa kesehatan jiwa bukan hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi masalah dan kesulitan, tetapi juga menyangkut kesempatan untuk bercerita, didengarkan, diterima, dan tetap memiliki harapan.
“Kesehatan jiwa bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghadapi masalah atau kesulitan. Namun, bagaimana seseorang memiliki ruang untuk merasa, didengarkan, diterima, dan tetap mempunyai harapan,”demikian pesan Susan dalam sambutannya.
Menurutnya, dukungan psikologis sangat penting bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pengobatan. Mereka tidak hanya membutuhkan perhatian secara fisik, tetapi juga dukungan emosional agar tetap memiliki semangat dalam menjalani hari-hari mereka.
Karena itu, lingkungan keluarga dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian bagi anak-anak.
Melalui kegiatan tersebut, IPK Indonesia Wilayah Riau ingin menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk bermain, berkarya, tersenyum, serta menyampaikan harapan mereka.
Susan berharap kegiatan sederhana seperti ini dapat memberikan pengalaman positif dan menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak di tengah perjalanan pengobatan yang tidak selalu mudah.
“Kami ingin anak-anak memiliki kesempatan untuk bermain, berkarya, tersenyum, dan menyampaikan harapannya. Mereka perlu merasakan bahwa ada orang-orang yang peduli dan bersedia mendengarkan mereka,”menjadi pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Tidak hanya memberikan perhatian kepada anak-anak, Susan turut menyoroti kondisi psikologis orang tua dan para pendamping yang selama ini menemani anak-anak menjalani proses pengobatan.
Menurutnya, orang tua dan caregiver juga memiliki beban emosional yang tidak ringan. Mereka dapat merasakan kelelahan, kesedihan, kecemasan, maupun ketakutan ketika mendampingi anak menghadapi situasi yang sulit.
Karena itu, mereka juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan perasaan dan memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar.
“Orang tua dan para pendamping tidak harus selalu terlihat kuat. Merasa lelah, sedih, takut, atau membutuhkan dukungan merupakan hal yang manusiawi.
Mereka juga perlu didengarkan dan diberikan ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan,” demikian pesan Susan dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan jiwa seharusnya tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga kepada keluarga yang turut berjuang mendampingi mereka.
Dukungan emosional, kepedulian, serta kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan arti besar bagi seseorang yang sedang menghadapi masa sulit.
Dalam kesempatan itu, Susana juga menyampaikan pesan khusus kepada anak-anak yang berada di Rumah Singgah YKAKI agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia mengingatkan bahwa setiap anak memiliki nilai, kemampuan, dan harapan yang patut dihargai.
“Kalian tidak harus selalu kuat, tetapi kalian perlu tahu bahwa kalian tidak sendiri. Kalian berharga, kalian hebat, dan harapan kalian sangat berarti,” menjadi pesan menyentuh yang ditujukan kepada anak-anak.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat “Berbagi Senyum, Menguatkan Harapan” yang diusung dalam kegiatan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.
Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak dapat merasakan dukungan dari lingkungan sekitar sekaligus memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa takut dihakimi.
Susana juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jiwa dengan membangun kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan emosional, serta menghargai perasaan orang lain.
Menurutnya, kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Kehadiran, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi bentuk dukungan yang bermakna.
Di akhir sambutannya, Susana menyampaikan apresiasi kepada Rumah Singgah YKAKI yang telah memberikan ruang bagi IPK Indonesia Wilayah Riau untuk berbagi kebahagiaan dan menyampaikan pesan mengenai pentingnya kesehatan jiwa.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada panitia, fasilitator, rekan sejawat, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, IPK Indonesia Wilayah Riau berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa semakin meningkat, terutama dalam memberikan perhatian kepada anak-anak yang membutuhkan dukungan emosional dan keluarga yang mendampingi mereka.
Semangat “Pengalaman Nyata, Didengarkan, Suara Nyata, Perubahan Nyata” turut menjadi pengingat bahwa setiap pengalaman memiliki arti, setiap suara layak didengar, dan setiap individu berhak mendapatkan dukungan.
Kesehatan jiwa bukan sekadar tentang bertahan menghadapi kesulitan, melainkan juga tentang memberikan ruang bagi setiap orang untuk didengarkan, diterima, dan kembali menumbuhkan harapan.








