Nilai-nilai Ketuhan Dalam Tradisi Spiritual Yang Terlindas Oleh Teknologi & Modernisasi

Kemenkumham1593 Dilihat

Oleh: Jacob Ereste :

Mentengnews.com:

Pandangan filsafat terhadap sptitual bisa diikuti mulai dari pandangan Plato, Hegel, Nietzche, hingga Immanuel Kant dalam perspektif para filosof sebagai upaya menemukan makna serta tujuan hidup, kendati tidak dedikit diantaranya yang melihat spiritual sebagai pengalaman subyektif dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Sesuatu yang lebih besar itu menurut umumnya para filsuf dapat ditemukan dalam pengalaman sehari-hari. Karena itu, sebutan untuk laku spiritual dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhan bisa dipahami sebagai bagian dari realitas spiritual yang acap menjadi topik pembicaraan sepanjang masa, seakan tanpa ujung persis seperti laku dan pengembaraan spiritual itu sendiri yang hanya akan berakhir saat menuju ke liang kubur.

Lalu topik tentang kematian Tuhan pun tak pernah lekang dari topik pembicaraan dan pembahasan dalam ranah filsafat yang patut diketahui bahwa makna dari kematian Tuhan itu sendiri adalah dalam pengertian nilai dari proses dialektis kesadaran dan kebebasan serta kesadaran diri. Bahkan Hegel menyebut spiritualitas melibatkan proses dialektis, yaitu tesus, antitesis dan sistesis. Karena itu, spiritualitas sebagai proses kesadaran yang terus berlangsung dan meningkat dari kesadaran subyektif menuju kesadaran obyektif hingga sampai pada kesadaran absolut, menjadi semakin menarik untuk untuk ditelaah dan diuji keabsahannya.

Spiritualitas dalam perspektif kebebasan sesungguhnya yang mampu menghantar manusia untuk mengatasi keterbatasan dirinya untuk terus mencapai kesadaran diri. Dan spiritualitas sebagai proses kesadaran diri untuk terus mencapai kesadaran absolut. Dalam perluasan cakrawala pandang kebebasan inilah tampaknya wilayah spiritualitas tidak hanya sebatas individu, tetapi tampak temaram meliputi masyarakat dalam skala yang lebih luas.

Ulasan Hegel tentang Phanomelogie des Geistes, spiritualitas sebagai proses dialektis jelas melibatkan kesadaran, kebebasan dan kesadaran diri. Kendati begitu, kritik Neitzche terhadap spiritualitas dapat digunakan untuk melemahkan sekaligus dapat mengontrol setiap individu. Karena itu Nietzsche mengkritik keras spiritualis sebagai ” moralitas budak”, karena menekankan pada kepatuhan dan ketaatan, bukan pada kekuatan dan kebebasan individu. Bahkan, spiritualitas menurut Nietzsche yang acap dianggap para pengeritik konsep dsn pikirannya yang anti Tuhan itu, spiritualitas pun dapat menjadi penyebab hilangnya makna dan tujuan hidup bagi siapa pun yang menekuni spiritual sebagai bagian dari sumber kekuatan diri yang bersemayam dalam jiwa atau bathin manusia.

Padahal, makna dari pandangan Nietzdche bahwa Tuhan telah mati itu, bukan dalam arti yang dinarasikan secara linier, karena yang mati sesungguhnya adalah nilai-nilai Ketuhanan, seperti yang tidak mampu diimplementasikan dalam sila pertama dari Pancasila yang diklaim sebagai pandangan hidup bangsa, bahkan sebagai ideologi negara.

Kritik Nietzsche yang menerasikan bahwa “Tuhan telah mati” lantaran spiritualitas tradisonal tidak lagi relevan, sehingga harus digantikan oleh nilai-nilai yang baru, jadi kalau yang dimasud nilai-nilai yang baru itu adalah buah dari pemikiran yang modern, justru disanggah oleh konklusi yang dirumuskan oleh Heidegger tentang spiritualitas yang melupakan manusia sebagai dasein. Karena teknologi dan modernitas adalah ancaman terhadap spiritualitas.

Masalahnya bagi spiritualitas harus kembali pada keberadaan manusia sebagai dasein. Jadi klaim Nietzsche bahwa Tuhan telah mati, adalah ungkapan dari bathin dan jiwanya menyaksikan nilai-nilai tradisional dari spiritual yang hilang daya pukau dan kekuatannya akibat tergerus oleh teknologi dan modernisasi yang melesat ke langit.

Nampaknya begitulah nilai-nilai Ketuhanan dalam tradisi spiritual yang berguguran mati akibat terlindas oleh teknologi dan modernisasi. Sehingga, gerakan kebangkitan kesadaran pemahaman spiritual semakin relevan digagas dan dimotori oleh GMRI (Gerajan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang diwarisi dan diteruskan oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu dari Orif. Dr (HC) Habib Khirzin, Sri Susuhunan Paku Buwono XII serta Gus Dur bersama sejumlah tokoh kainnya, layak dan patut menjadi prioritas utama untuk dikukuhkan sebagai dasar pijak mengelola bangsa dan negara Indonesia memasuki gerbang peradaban baru Indonesia Emas — tahun 2045 — yang kuat berlandaskan pada etika, moral untuk memuliakan harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia.

 

Radio Dalam, 21 Maret 2026

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *