Rahmat Septia Putra, Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning Soroti Perkembangan UMKM

"Mengapa UMKM Sulit Naik Kelas?"

Terpopuler908 Dilihat

Oleh: Rahmat Septia Putra

🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian UMKM, sektor ini memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus menyerap sebagian besar tenaga kerja Indonesia.

Berbagai program pemerintah juga terus diarahkan untuk memperkuat sektor ini, mulai dari akses pembiayaan, pelatihan, hingga transformasi digital. Namun, di balik berbagai upaya tersebut, masih banyak UMKM yang mengalami kesulitan berkembang secara berkelanjutan.

Pertanyaannya, mengapa sebagian UMKM mampu tumbuh dan memperluas usahanya, sementara sebagian lainnya tetap berjalan di tempat meskipun memiliki produk yang baik dan pelanggan yang loyal?

Selama ini keterbatasan modal sering dianggap sebagai penyebab utama. Padahal, hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi UMKM jauh lebih kompleks.

Di tengah perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, dan persaingan yang semakin dinamis, kemampuan memperoleh informasi, memahami perubahan, serta mengubah pengetahuan menjadi strategi bisnis justru menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing usaha.

Persoalan ini juga menjadi perhatian Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., Ketua Program Studi Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning. Menurutnya, peningkatan daya saing UMKM tidak cukup hanya bertumpu pada kualitas produk maupun dukungan permodalan. Pelaku

usaha juga perlu membangun kemampuan belajar yang berkelanjutan agar mampu membaca perubahan pasar, memahami kebutuhan konsumen, serta memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha.

Ia juga menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, melainkan dapat dihilirisasikan menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sejalan dengan pandangan tersebut, kajian penulis terhadap UMKM Kue Retak by Erza di Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa tantangan pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan aspek pemasaran atau keterbatasan sumber daya, tetapi juga kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.

Dalam menjalankan usahanya, pelaku usaha setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi, mulai dari masukan pelanggan, perubahan perilaku konsumen, strategi pesaing, hingga perkembangan teknologi.

Namun, berbagai informasi tersebut sering kali hanya berhenti sebagai pengalaman dan belum dikelola secara sistematis sebagai sumber pembelajaran untuk mendorong inovasi serta pengembangan usaha.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Absorptive Capacity Theory yang dikembangkan oleh Cohen dan Levinthal, kemudian disempurnakan oleh Zahra dan George.

Teori ini menjelaskan bahwa organisasi yang mampu memperoleh, memahami, mengintegrasikan, dan memanfaatkan pengetahuan baru akan lebih siap menghadapi perubahan, menciptakan inovasi, serta mempertahankan keunggulan bersaing. Sederhananya, Absorptive Capacity adalah kemampuan pelaku usaha untuk menangkap informasi baru, memahami manfaatnya, lalu mengubahnya menjadi tindakan nyata yang dapat meningkatkan daya saing usaha.

Ketika dimintai pendapat, Dr. Chandra Bagus, sebagai bagian dari masyarakat

sekaligus peneliti manajemen, menilai bahwa tantangan terbesar UMKM pada era digital bukan lagi sekadar keterbatasan informasi, melainkan kemampuan mengubah informasi tersebut menjadi tindakan nyata.

Menurutnya, pengalaman usaha, hasil pelatihan, maupun masukan pelanggan akan memberikan manfaat apabila didokumentasikan, dianalisis, dan diterapkan secara konsisten dalam proses bisnis. Dengan demikian, pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi berkembang menjadi inovasi yang memberikan nilai tambah bagi usaha.

Bagi UMKM, membangun budaya belajar tidak selalu membutuhkan investasi yang besar. Langkah sederhana seperti mendokumentasikan pengalaman usaha, melakukan evaluasi terhadap masukan pelanggan, mengikuti pelatihan secara berkelanjutan, memperluas jejaring bisnis, menyusun standar operasional prosedur (SOP), serta memanfaatkan teknologi digital secara lebih optimal dapat menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pengelolaan usaha.

Pada akhirnya, keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal ataupun kecanggihan teknologi yang dimiliki.

Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan pelaku usaha untuk terus belajar, beradaptasi terhadap perubahan, dan mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan nilai tambah.

Modal dapat dicari, dan teknologi akan terus berkembang, tetapi kemampuan belajar adalah investasi yang tidak pernah kehilangan nilainya. Di tengah ekonomi yang semakin berbasis pengetahuan, kemampuan itulah yang akan menentukan apakah sebuah UMKM mampu bertahan, berkembang, dan benar-benar naik kelas.

Artikel ini merupakan refleksi akademik penulis yang disusun berdasarkan kajian mengenai pengembangan daya saing UMKM melalui pendekatan Absorptive Capacity Theory.

banner 500x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *