🇮🇩✌️Mentengnews.com – Pekanbaru: Senin, 14 September 2026– Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekanbaru kembali menunjukkan manifestasi keberpihakannya kepada masyarakat di tengah kepungan krisis ekologis.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemantauan kualitas udara (Air Quality Index / AQI) terkini, langit Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap pekat dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang sempat melonjak di angka 164,8 hingga 173. Kondisi ini menempatkan kualitas udara Pekanbaru pada level “Tidak Sehat” hingga berisiko tinggi bagi kesehatan respirasi publik.
Sebagai respons cepat atas memburuknya indeks standar pencemar udara yang mengancam keselamatan warga—terutama anak-anak dan kelompok rentan—HMI Cabang Pekanbaru menginisiasi aksi solidaritas kemanusiaan berupa pembagian ribuan masker medis secara masif kepada para pengendara dan masyarakat di Tugu Perjuangan Kota Pekanbaru.

Ketua Lembaga Kesehatan HMI (LK HMI) Cabang Pekanbaru, Nasrul, menegaskan bahwa ancaman kabut asap ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai fenomena musiman yang biasa, melainkan darurat kesehatan publik yang berdampak sistemik pada fisiologis manusia.
“Secara medis, partikel mikroskopis PM2.5 yang terinholasi secara konstan menembus barrier alveolar paru-paru dan masuk ke aliran darah, memicu inflamasi sistemik, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga ancaman jangka panjang bagi kardiovaskular. Aksi pembagian masker ini adalah mitigasi darurat preventif untuk meminimalisir dampak paparan toksik terhadap mukosa saluran pernapasan warga. Negara dan institusi berwenang harus hadir secara nyata, bukan sekadar menunggu instrumen alam berupa hujan untuk menyudahi krisis,” ujar Nasrul di sela-sela aksi.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Perguruan Tinggi Jaringan Kepemudaan, (PTJK) HMI Cabang Pekanbaru, Kukuh El Hakim, menyoroti lemahnya mitigasi struktural dan penegakan hukum terhadap akar permasalahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di bumi Lancang Kuning.
“Data spasial menunjukkan masih puluhan titik panas (hotspots) terkonsentrasi di wilayah regional sumatera dan Riau. Kita tidak boleh abai bahwa problem ekologis ini berakar dari anomali tata kelola lingkungan dan lemahnya audit korporasi pemegang izin konsesi lahan. Ketika anak-anak sekolah mulai dibatasi ruang geraknya akibat udara yang toksik, ini adalah indikator kegagalan perlindungan ekologis. HMI menuntut evaluasi menyeluruh serta transparansi penindakan hukum yang tegas terhadap korporasi pembakar lahan tanpa kompromi,” tegas Kukuh.
Sementara itu, Sekretaris HMI Cabang Pekanbaru, Hadi Surya Pratama, menegaskan bahwa aksi pembagian masker ini merupakan wujud nyata fungsi kontrol sosial sekaligus kritik intelektual dalam melindungi hak atas lingkungan hidup yang sehat bagi masyarakat.
“Intelektualitas profetik yang kami emban menuntut HMI untuk tidak sekadar berwacana di ruang-ruang akademik, tetapi hadir membersamai penderitaan rakyat di ruang-ruang publik. Hari ini masyarakat Pekanbaru kembali dipaksa menghirup udara tercemar akibat kelalaian sistemik yang terulang setiap tahun. Aksi pembagian masker ini adalah simbol perlawanan terhadap abainya negara atas hak dasar warganya. Kami mendesak pemerintah daerah segera menetapkan langkah darurat kesehatan, mengoptimalkan posko kesehatan siaga, serta memastikan seluruh fasilitas pelayanan medis siap memproteksi masyarakat dari ancaman laten kabut asap,” tutup Hadi Surya Pratama.
Melalui aksi kolaboratif ini, HMI Cabang Pekanbaru berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan publik yang berperspektif kelestarian lingkungan serta mendesak adanya reformasi total penanggulangan karhutla di Provinsi Riau demi menjamin hak generasi masa depan atas udara yang bersih dan sehat.











